Laman

Subscribe:
  • Catatan Liburan Yang Tertunda

    Janji share tentang jalan-jalan kemaren sempat tertunda oleh beberapa hal, termasuk aku yang tiba-tiba harus dilarikan ke RS dan sempat ditangani tim medis RSPP selama beberapa jam di UGD...

  • Compliment Dari Syafrina Siregar

    Di satu pagi, jutaan detik menjelang hari ulang tahun aku tahun ini … ada permintaan khusus dari Nana. Bukan sesuatu yang berat sih, jadi waktu itu aku sanggupin aja. Cukup dengan waktu 24 jam saja permintaan itu sudah bisa terpenuhi. Alhamdulillah...

  • Happy Holiday in Bintan Resorts

    Kami sempat berhenti sebentar di depan gerbang menuju jetty Mangrove Tour. Dulu saya sempat beberapa kali... sering sih tepatnya, mampir ke jetty....

10 April 2014

Jariku Ungu!



Ini lagu Pemilu yang dulu sering banget didenger saat masa-masa pemilu sudah dekat. Tapi, dengan musik yang berbeda. Lebih gaul, lebih masa kini dan lebih seru.

Sejak awal aku sudah niatkan hati untuk datang ke TPS menggunakan hak suaraku memilih caleg atau partai yang sesuai dengan harapanku. Jadi ketika ternyata RT yang dekat dengan kost-anku menolak untuk mengurus dokumen yang aku butuhkan untuk menggunakan hak suaraku, aku upayakan cara lain. H-1 menjelang Pemilu 2014, aku putuskan untuk mengikuti Pemilu di Bogor. Sayangnya, karena Kartu Keluarga yang dikirim dari Sukabumi belum sampai juga sampai malam hari, akhirnya dihari H aku putuskan untuk pulang ke Sukabumi. Untunglah masih berhasil mendapatkan tiket KA Pangrango tujuan Sukabumi dari Stasiun Paledang – Bogor untuk keberangkatan jam 07:55WIB dan tiba di Sukabumi sekitar jam 10 pagi.

Tiba di Stasiun Sukabumi , suasana stasiun saat itu cukup ramai. Ada yang baru tiba, ada yang akan berangkat ke Bogor atau Cianjur. Di bagian dalam ada yang antri untuk beli tiket dan aku sempat ikut antrian sambil harap cemas untuk bisa kembali ke Bogor dengan kereta jam 3 sore dari Sukabumi. Sayangnya, all seats are fullybooked! Wow! Akhirnya aku pikir yang penting saat ini harus segera pulang, ambil kartu pemilih dan pergi ke TPS dekat rumah, masalah pulang ke Jakarta dipikirkan setelah memilih.

Jam 10 lewat, aku sudah sampai di TPS dan menunggu giliran untuk dipanggil untuk memilih dan menitipkan amanah pada mereka yang aku pilih di bilik pemilihan. Beberapa menit sebelum dipanggil, ada kejadian yang sejujurnya membuat aku sempat kebingungan ketika seorang tetangga yang dulunya teman sekolah duduk di sebelahku, lalu terjadilah obrolan seputar pemilihan tadi pagi dengan suara pelan  *khawatir mengganggu jalannya pemilu*
“Mau minta tolong...” 
“Minta tolong apa?” 
“Tolong bantulah... untuk anu...”
Aku sempat terdiam, hening, mikir... itu maksudnya apa ya.... lalu,”oooh maksudnya partaiiii? Milih partai ituuuu...” 
“Iya...,” katanya sambil senyum penuh arti yang kusambut dengan ketawa kecil.

Inginnya sih teriak di depan mukanya,"udah nunggu giliran dipanggil masih usaha kampanye juga broooo! Please deeeeeeh..."

Sudah hari H, sudah di dalam ruang pemilihan dan sedang menunggu giliran untuk dipanggil, dan situ masih gerilya untuk kampanye? Untuk apa? Berharap aku mengubah keputusan yang sudah kuambil sejak pagi dan memantapkan hati sepanjang perjalanan dari Bogor ke Sukabumi? Sayang sekali, keputusanku sudah mantap, kawan! Kita berteman iya, masa sekolah dulu. Tapi bukan berarti aku akan menggadaikan keputusanku hanya demi mempertahankan hubungan pertemanan kita. Ini masalah masa depan bangsa, kawan! Bukan berarti yang kau tawarkan itu buruk, tapi tawaranmu tak populer dan terasa egois.

Maaf, walaupun kita teman, tapi aku mantap untuk memilih partai yang bukan kamu jagokan! Maaf, tapi caramu sudah membuatku semakin tak simpati dan caramu tak mampu mengubah keputusanku. Karena sesungguhnya, kalau kau yakin partai yang kau jagokan punya program dan orang-orang yang mumpuni, kenapa dihari H dan di dalam ruangan masih bergerilya minta tolong pada orang-orang yang sudah berada di TPS dan siap memilih?

Dan dengan mengucap Bismillah... aku memilih sesuai dengan kata hatiku diiringi harapan, semoga mereka yang tadi aku pilih (kalau bisa sampai menjadi bagian dari wakil rakyat), mampu mengemban amanah dengan sebaik-baiknya sampai akhir masa jabatan selesai.

Yang perlu dikoreksi dan masukkan untuk KPU untuk Pemilu yang akan datang adalah data Calon DPD yang ada di lembar suara itu perlu juga dicantumkan domisili calon DPDnya. Supaya kami sebagai pemilih, bisa lebih mudah memutuskan siapa yang seharusnya kami pilih.
~~~yang punya blog~~~

Ditulis ini disponsori oleh bangku kosong di bis Parung Indah dalam perjalanan kembali ke Jakarta dengan tinta biru di jari kelingking sebelah kiri.

Video Pemiyuk 2014 dari Youtube.

04 Februari 2014

Keseruan #NgintipBareng Photo Prewed



Hari Minggu, 2 Februari 2014 kemarin saya dan beberapa teman Blogfam kumpul lagi untuk ngintip bareng. Kali ini diramaikan juga oleh teman-teman dari Komunitas Nikon Fotografi. Nah, ngintip bareng kemarin tentang Photo Prewedding.
Tapi saya baru berangkat lewat dari jam setengah empat sore karena sempat terhadang hujan sesaat ketika siap berangkat. Sekitar jam 4 sore saya sudah bergabung dengan Dahlia, Mas Fayyas, Ragil dan Yudha aka Bengsin. Sambil menunggu yang lain, saya dan Dahlia sempat ngobrol gaje. Ngga lama datang teman-teman dari Komunitas Nikon Fotografi. Horeeeee rame!

Eh, tapi model untuk hari ini batal hadir euy! Jadi gimana? Mmm... mmm... show must go on! Saya dan Dahlia nyamperin 6 orang mahasiswa/i Arsitek Trisakti yang sedang istirahat, ngga jauh dari tempat kami duduk-duduk. Setelah kami memperkenalkan diri, Dahlia yang minta kesedaan Adel dan Chris untuk menggantikan model yang berhalangan hadir. Untungnya mereka mau! Kalau ngga, aduh... kami harus keliling Taman Menteng untuk cari model pengganti!

Tema
Nah biasanya kan kalau foto Prewed itu ada temanya tuh, seperti glamour, piknik, hobi, dll. Karena sejak awal dipilih tema casual – be your self, ya pas banget dengan model penggantinya! Dan karena di Ngintip Bareng ini juga sifatnya masih belajar, berbagi dan sama-sama review. Jadi ngga ada acara ganti baju, ngga ada make up tebal.

Lokasi
Awalnya dipilih Taman Universitas Indonesia di Depok. Karena denger-denger disana lokasinya keren, dan sering jadi lokasi orang-orang yang ingin membuat foto prewedding. Tapi karena faktor cuaca dan melihat kondisi alam, akhirnya lokasi dipindah ke Taman Menteng. 

Di Taman Menteng ada Rumah Kaca yang walaupun kita sebagai pengunjung ngga bisa masuk ke dalamnya, tapi bisa menjadikan Rumah Kaca sebagai salah satu latar belakang yang menarik selain air mancur, lapangan rumput yang hijau, taman bermain dan berbagai tanaman tentunya.

Komposisi
Lagi-lagi, soal komposisi diingatkan, seperti rule of third. Soal sudut pengambilan, dibebaskan. Supaya setiap peserta bisa saling belajar dengan melihat hasil teman-teman yang lain.

Soal sudut pengambilan ini jadi pemandangan yang seru banget. Karena demi mendapatkan hasil yang ok, totalitas (pinjem istilah Ragil) seorang yang belajar photography pun jadi pemandangan yang menarik... ada yang rela duduk, jongkok, tiduran.

Latar Belakang
Seperti yang disinggung di atas, keragaman yang ada di Taman Menteng jadi pilihan yang menarik untuk dijadikan latar belakang. Tapi, namanya taman, pasti ramai orang yang lalu lalang.

Nah, gimana caranya supaya latar belakang yang kita pilih membuat orang yang melihat hasilnya fokus pada objek foto, dan menjadikan latar belakang hanya sebagai pendukung dari sebuah cerita yang ada di foto tersebut nantinya. Katanya gini, usahakan latar belakangnya ngga terlalu ramai. Supaya orang yang fokus pada objek foto ngga pecah.

Terus, ketika lokasi pindah ke sebuah bangku taman di salah satu sudut Taman, ada tiang yang agak mengganggu ruang gerak teman-teman. Gimana caranya? Minta model untuk bergeser ke sisi lain bangku yang mereka duduki. Supaya kita lebih leluasa untuk mendapatkan hasil yang bagus.

Komunikasi Dengan Model

Penting banget untuk komunikasi dengan objek foto alias model. Kenapa? Supaya suasananya ngga kaku, supaya terjadi interaksi yang santai, supaya sama-sama tau maunya seperti apa, supaya lebih seru dan hasil maksimal sih pastinya.

Mulai dari memperkenalkan diri masing-masing, komunikasi selama proses foto berlangsung, bahkan ketika kegiatan ini berakhir pun diharapkan komunikasi tetap terjaga dengan baik. Itulah kenapa, sebelum kami berpisah kemarin, saya sempat minta alamat e-mail, Facebook, Twitter dan no hp Adel dan Chris. Selain untuk share foto-foto kemarin, siapa tau setelah kegiatan kemarin itu, kita masih bisa bikin kegiatan bareng. Iya kan? Ya kan? Siapa tauuuu... 

Memanfaatkan Flash
Ini bagian seru menurut saya. Soalnya saya selama ini seringnya mengandalkan camera pocket, smartphone, dan kalaupun pinjem kamera DSLR punya adik atau temen ya flash-nya yang build in dengan kamera, ngga pernah memanfaatkan equipment tambahan seperti flash.

Yang pasti, kalau ada tambahan equipment tambahan flash, hasilnya emang lebih keren sih menurut saya hehehe...
Eh tapi kemarin waktu Ngintip Bareng pake background salah satu Rumah Kaca yang ada di Taman Menteng, Ragil ngasih tantangan gini,”gimana caranya pake flash tapi jangan sampai hasilnya rusak karena pantulan flash?”

Di sini seru lagi, karena ternyata teman-teman yang ikutan Ngintip Bareng mencoba beragam posisi untuk menghindari pantulan flash itu.

Dan sedang seru-serunya belajar, tiba-tiba gerimis! Selesailah kegiatan ngintip bareng kemarin yang ditutup dengan foto bareng dan juga... minta data Adel & Chris supaya teman-teman tadi sudah belajar photo Prewed bisa mengirimkan hasilnya ke mereka berdua.

Yang menarik dari kegiatan ngintip bareng kemarin adalah beberapa teman ada yang secara spontan memasukkan uang ke dalam kotak yang dibawa oleh mereka yang memang sedang ada di lokasi untuk cari dana.

Dari Taman Menteng, kami nyeberang ke 7-Eleven Menteng. Duduk-duduk di sana, ngobrol-ngobrol sebentar sebelum satu persatu pamit pulang. Sementara saya, Salman, Dahlia dan Mas Fayyas memilih untuk ke Plaza Festival untuk makaaan!

~~~yang punya blog~~~

Pulang dari Ngintip Bareng kemarin, puas banget rasanya. Karena bisa nambah ilmu dan nambah temen juga. Oh iya, untuk yang kemarin gagal ikutan... jangan sedih karena next Ngintip Bareng Blogfam bakal lebih seruuuu!

16 Januari 2014

For Me, Myself!



Just encourage myself to achieve my dreams, my goals, my better life!
Source: http://bit.ly/1dvKyD1

09 Januari 2014

Belajar Lewat #NgintipBareng Blogfam!





Saya ingin cerita tentang kebiasaan aja. Kebiasaan kopdar sambil belajar photography. Iya, kebiasaan kopdar sambil belajar photography itu sering terjadi dengan komunitas Blogfam yang jadi komunitas blogger pertama saya. Selalu ada yang dibahas.

Mulai dari photo dengan smartphone dan aplikasi yang digunakan. Lalu merambah ke DSLR. Nah, kalau kamera secanggih ini sih biasanya saya suka ikutan belajar pakai kamera teman-teman yang datang dan bawa DSLR. Terbaru, Kamera Lubang Jarum (KLJ). Kalau KLJ ini yang menularkan virusnya Arie.

Dari keseringan seperti itu, muncullah ide untuk membuat kopdar yang khusus belajar photography. Khusus lho, bukan iseng lagi. Judul kopdarnya #NgintipBareng. Bukan ngintip yang ngga-ngga, tapi ngintip dari balik kaca kecil yang ada di kamera, atau layar besar yang ada di smartphone.

Kopdar #NgintipBareng Blogfam ini pertama kali digelar hari Sabtu, 4 Januari 2014 lalu di Taman Suropati Menteng mulai jam 4 sore sampai sepuasnya dengan tutor Bengsin. Sebelum dimulai, setiap peserta sharing pengalamannya tentang kamera, aplikasi dan foto. Nah, apa sih yang dipelajari saat #NgintipBareng kemarin itu?

Komposisi
Salah satu teknik komposisi menggunakan Rule of Third. Itu lho yang kalau pilih guide, akan muncul 9 kotak... 3 x 3. Nah, kotak-kotak itu bisa membantu kita untuk menentukan objek foto ada di mana. Yang penting seimbang dan enak dilihat.

Terus ada sudut pandang. Mmm... kalau ini contohnya mau foto orang gemuk seperti sayaaaa. Sebaiknya jangan langsung dari depan hadap-hadapan antara kamera dengan objek foto yang berdiri tegak lurus. Tapi cari sudut pandang yang membuat si objek foto tampak lebih tinggi, berarti posisi kamera dari bawah menghadap ke atas... atau dari atas menghadap ke bawah dengan posisi si objek foto yang agak miring, mukanya aga melihat ke samping. Jadi ngga terlalu terlihat gemuk. Seperti foto disamping ini...

Food Photography
Ternyata untuk membuat foto makanan yang menarik dan menggoda selera itu ada tekniknya juga lho! Selama ini kalau saya mau pamer makanan, selalu kamera ada di posisi atas menghadap kebawah dan merasa semua harus tertangkap oleh kamera supaya lengkap. Padahal katanya nih, ngga perlu semua, tapi ambil bagian yang menarik. Kalau sudah terlanjur gimana? Gunakan teknik crop.

Oiya, masalah pemilihan warna piring juga penting ternyata. Warna putih bisa membuat warna warni makanan akan lebih menarik. Mmm... pantas piring-piring di hotel atau restaurant itu selalu berwarna putih polos ya? Ternyata ada maksudnya. Di sebelah kiri ini ada 4 Food Photography hasil karya saya. Silakan dinilai :)

Membidik sunset
Ini bagian paling susah! Serius! Mungkin karena saya hanya mengandalkan Galaxy Tab 2 yang terbatas banget untuk menguasai semburat sunset, jadilah hasilnya berantakan saudara-saudara... hahaha...

Padahal kalau posisinya betul, kita bisa menangkap bulatnya matahari senja tanpa membuat orang yang difoto dengan latar belakang sunset hanya terlihat siluetnya saja. Yes, saya harus belajar lagi soal ini.

Masih di Taman Suropati, ketika matahari sudah tenggelam dan lampu taman sudah dinyalakan. Sesi belajar menggunakan lampu blitz. Di sini teman-teman yang siap dengan kameranya harus menangkap objek-objek yang sedang melompat... dan salah satu objeknya itu adalah... sayaaa hahaha

Selesai? Belum lah! Kami pintong ke Warung Tekko di Plaza Festival. Rencananya mau makan malam di sana. Sambil menunggu pesanan datang, sesi belajar masih berlanjut dengan objek utama DANBO!

Oh, iya... makan malam itu juga traktiran ulang tahun Salman... selamat ulang tahun Salman! Next #NgintipBareng bayarin karaoke yes? ^_^

~~~yang punya blog~~~

Belajar bisa dimana saja, dengan siapa saja. Yang penting jangan malu untuk belajar, karena belajar adalah bagian dari perjalanan hidup.

08 Januari 2014

Ikuti Prosedur


Sumber gambar dari http://bit.ly/1ifOPvm
Setiap tahun selalu ada berita tentang kecelakaan laut yang menelan korban jiwa. Tahun ini juga. Berita yang terakhir saya baca dari share link seorang teman di Facebook menjelaskan kalau kapal yang tenggelam tersebut mengalami kebocoran. Dan saya pun bertanya-tanya dalam hati, ini bocor di perjalanan kah? Saya baca terus berita itu dan... 

Sebelumnya, KMP Munawar Ferry tenggelam pada Jumat (3/1) dini hari sekitar pukul 04.00 di Selat Alas. Menurut informasi, sejak berangkat dari Pelabuhan Kayangan, KMP Munawar Ferry sudah diketahui mengalami kebocoran, karena penumpang melihat genangan air di bagian dek kapal.1)

Membaca paragraf itu saya terbengong-bengong! Kok bisa dikeluarkan ijin berlayar padahal kondisi kapal tidak layak untuk beroperasi? Kenapa awak kapal dan nakhoda memaksa untuk tetap memberangkatkan kapal?

Dulu, sekian tahun yang lalu... atau tepatnya mulai Oktober 2004 sampai dengan Juli 2007, transportasi laut menjadi bagian dari keseharian saya. Berkordinasi dengan awak kapal dan petugas yang berwenang menjadi santapan sehari-hari. Mempelajari sistem yang seharusnya dijalankan menjadi kewajiban. Memahami kondisi alam dan memutuskan dengan ekstra hati-hati sesuai  safety procedure, sebagaimana yang selalu diingatkan oleh management tempat saya bekerja saat itu.

Saya ingat betul setiap kali kapal akan berangkat, selalu ada pengecekan menyeluruh. Awak kapal akan melaporkan kalau ada kerusakan, sekecil apapun itu. Bahkan untuk sebotol pengharum ruangan yang habis pun, pasti lapor. Dan seingat saya, awak kapal dalam hal ini nakhoda yang akan memberitahu apakah perlu atau tidak mencari speedboat pengganti. Itu dari hal teknis.

Sumber gambar: koleksi pribadi
Hal non teknis, lebih kepada dokumentasi. Detail penumpang seperti nama, jenis kelamin, kewarganegaraan, tanggal lahir dan nomor passport (untuk WNA) biasanya akan diminta untuk dicatat dalam daftar manifest keberangkatan. Manifest ini menjadi lampiran surat ijin berlayar yang dikeluarkan oleh pihak Port (Pelabuhan). Jumlah penumpang yang naik harus sama dengan jumlah yang tercatat di manifest dan jumlah boarding pass yang diambil dari penumpang. Jadi, kalau mau melakukan perjalanan laut, pastikan nama kita tercatat di manifest.

Kedengarannya rumit, tapi menurut penjelasan yang saya terima dulu, seperti itulah seharusnya. Tapi di Indonesia ini, safety procedure itu masih sering diabaikan. Buktinya, nama saya sempat beberapa kali dicatut sebagai salah satu penumpang yang berangkat dari Pelabuhan Telaga Punggur Batam tujuan Bandar Seri Bintan di Tanjung Pinang. Dan tanpa bermaksud menyalahkan pihak manapun, tapi mengikuti prosedur yang sebenarnya akan jauh lebih baik.

~~~yang punya blog~~~

1)    Sumber dari http://bit.ly/1fcs9OL